Festival Purwakarta Gianyar

0

purwakartakab.go.id

IMG_0260

(Purwakarta) – Festival Purwakarta Gianyar yang menampilkan 113 seniman asal Gianyar Bali dan berkolaborasi dengan sekitar 30 seniman purwakarta, membawakan sebuah tarian kolosal menceritakan Prabu Siliwangi kala perang bubat.

Kolosal cerita ini sengaja diangkat dalam festival purwakarta Gianyar oleh bupati Gianyar, Anak Agung Gede Agung Bharata merujuk kitab Sundayana Bali tentang cerita Prabu Siliwangi. Tema ini diapresiasi bupati purwakarta, Dedi Mulyadi sehingga lahirlah kolaborasi para seniman dalam membawakan tari kolosal ini.

Menurut bupati Gianyar, Anak Agung, sengaja membawakan cerita Prabu Siliwangi karena memang sangat erat kaitannya dengan budaya Sunda masa lalu. Pihaknya pun membawa para seniman kawakan dengan koregrafer yang punya nama di dunia internasional.
“Ini khusus untuk purwakarta, saya tak sembarangan bawa rombongan ini. Nanti malu saya dilihat bupati purwakarta kalau asal asalan. Ini seni tingkat tinggi yang memiliki makna luhur dan saya yakin bupati kita ini (Dedi Mulyadi) memiliki nilai seni itu”, jelasnya.

Anak Agung mengaku ada energi tarikan yang berbeda saat bertemu bupati purwakarta. Dia menilai, sosok Dedi mampu menghadirkan Sunda dan budayanya dalam pembangunan di purwakarta. Menurutnya, orang yang mengerti tentang dirinya, dialah yang mau tahu tentang masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.
“Maka budaya kita yang paling cocok adalah ya tanah kita ini, Sunda ini. Dan saya juga merasa cocok berada disini. Yang paling baik untuk kita ya dari diri kita sendiri, dari budaya kita. bukan budayanya orang lain.”, tambahnya.

Sementara itu, bupati purwakarta Dedi Mulyadi ingin mengembalikan tradisi orang Sunda pada budaya luhur dan tradisi masa lalunya. Karena dengan begitu, orang Sunda akan menemukan jati dirinya, mengenal masa lalunya dan menemukan masa depannya.
“Islam menyebutnya Innalillahi wainna illaihi roziun, berasal dari sini kembali lagi kesini. Kalau Sunda menyebutnya Lembur matuh dayeuh maneuh Banjar karang pamidangan.”, jelas Dedi.

Untuk itu festival budaya semacam ini menjadi ikhtiar pihaknya untuk mengembalikan kejayaan Sunda masa lalu di tanah purwakarta. Dan Bali menurutnya menjadi penting dihadirkan di purwakarta, karena budaya Bali berhasil membangun identitas Indonesia.
“Membangun identitas Indonesia dari budaya Bali saja itu melahirkan multiplayer effect, ekonominya tumbuh, pariwisata perhotelan tumbuh, industri kreatifnya tumbuh berasal dari kebudayaan yang dimilikinya. Ini yang kita harus belajar. Pada akhirnya ini juga menjadi sebuah keyakinan orang Bali mensucikan kampungnya, mensucikan airnya, mensucikan tanahnya, mensucikan lautnya, mensucikan hutannya. Kita hari ini orang purwakarta, kadang kita berteriak mensucikan tempat lain, tapi mengotori tempatnya sendiri. Membangga-banggakan orang lain tapi mengotori kampungnya sendiri. Untuk itu mari sejak sekarang yang tinggal di purwakarta, sucikan purwakarta.”, pungkasnya.

Humas Setda purwakarta.

Share.

About Author

Leave A Reply